Anda punya toko online atau website yang sudah terintegrasi dengan facebook, seperti Ficebook like atau share. Atau Anda malah seorang pejualan online yang berjualan hanya di facebook?.
Suka mendapatkan tag di dari barang yang di jual
seller di facebook, apa realsi anda?. Kesal atau tak mengapa selama produknya memang bukan barang yang dilarang. Kalau kesal ya wajar, toh facebook adalah jejaring social bukan Emarketplace dimana orang bisa menjual dan membeli.
Fenomena jualan di facebook ini saya kira wajar. Di Internet, sekarang ini banyak orang yang lebih suka berlama-lama berada di jejaring social. Untuk sekedar sharing dan diskusi tentang banyak hal. Seperti layaknya berjualan di dunia nyata, di dunia mayapun demikian, dimana ada orang banyak berkumpul ya disitulah ceruk pasar terbuka. Dan itulah yang terjadi di facebook, orang berbodong-bondong jualan di facebook.
Nah berikut beberapa data tentang facebook commerce
500+ juta pengguna Aktif.
250+ juta orang menggunakan facebook untuk websitenya
200+ juta pengguna facebook mengakses Facebook menggunakan mobile phone
700+ milyar menit perbulan dihabikan di Facebook
50% login setiap hari
Rata-rata user mempunyai 130 friends
Rata-rat user terkoneksi kedalam 80 community pages, groups and events
Rata-rata user membuat 90 content setiap bulan
30 milyar content di sharing setiap bulannya
20 milyar applications terinstal setiap hari
10,000 new websites di integrasikan dengan facebook setiap hari
2.5 juta websites di Integrasikan dengan facebook
Data tersebut akan menjadi perhatian dan alasan tersendiri kenapa kita para penggiat ecommerce harus mulai meikirkan tentang facebook commerce.
sumber gambar: l2thinktank.com

Social Commerce Lockerz telah mendapatkan $ 30 juta pendanaan baru dari SEC baru. Seperti telah di konfirmasi oleh techcrunch tentang kenaikan tersebut dengan seorang juru bicara perusahaan. Lockerz sebelumnya mengumpulkan $ 30 juta dari KPCB, Liberty Media dan CEO Liberty Greg Maffei.
Lockerz Didirikan oleh Kathy Savitt, seorang mantan karyawan Amazon dan American Eagle Outfitters exec. Lockerz adalah situs Social Commerce dengan gagasan bahwa influencer dalam sebuah jaringan sosial dapat menjadi pendukung brand dan konten serta mempengaruhi perilaku teman-teman mereka.
Lockerz yang memiliki 18 juta anggota di seluruh dunia ini ditujukan untuk pria dan wanita usia 13 sampai 30, berusaha untuk membangun sebuah komunitas trendsetter dan tastemakers yang gemar berbelanja, bermain dan terhubung di Web. Dengan menggunakan Lockerz, pengguna dapat memperoleh poin dan diskon merek dengan berbagi konten di situs.
Facebook memang fenomenal. Perkembangan yang cukkup signifikan dengan jumlah user mencapai 500 milyar pengguna membawa facebook sebagai situs jejaring social terbesar. Selain itu, facebook juga telah banyak membawa banyak perubahan diranah internet ke arah lebih social. Dan membuatnya sebagai brand di internet yang paling kuat di tahun ini.
Pendapatan facebook yang memang selama ini masih jadi andalah tentu adalah facebook andsensnya. Belakangan memang ada rencana-rencana untuk mengarah ke ranah daily deals dll. Namun sebenarnya berapa jumlah uang mereka hasil kan dan berapa kira-kira pendapatan facebook dalam beberapa tahun kedepan?
seperti ditulis econetwatch.com, Sebuah perusahaan di sekuritas, Wedbush Efek mengungkapkan bahwa Facebook besutan Mark Zuckerberg akan menghasilkan $ 11 miliar dan adalah senilai $234 billion pada tahun 2015.
Data ini diterbitkan oleh GigaOM, seperti yang dilaporkan oleh BusinessInsider dalam laporan di Second Internet. Analis sebelumnya, Kerner, juga membuat perkiraan pada bulan Februari 2010. Pada saat itu ia mengatakan bahwa Facebook akan bernilai $ 100 miliar di tahun 2015. dan Facebook akan memiliki pendapatan kemungkinan dari Facebook Kredit.
Tren ecommerce saat ini sebenarnya sedang mengarah ke social commerce. Menggabungkan antara social media dengan ecommerce.
Di Indonesia, sebelumnya seputar ecommerce menulis tentang kaskus sebagai model social commerce yang sudah berjalan. Saat ini kita akan membahas tentang dvers.com yang juga ,odel social commerce di Indoneisa.
Awalnya, dvers bernama desa virtual, namun sering perubahan layout dan logo namanya juga ikut bberubah. Dvers seperti layaknya Jejaring sosial lainnya yang itu memberikan kebebasan kepada usernya untuk share status, comments, note, event, upload photos, fasilias chek in and share ke dalam jaringan pertemanannya.
Serta menggabungkannya dengan layanan ecommerce yaitu dengan adanya kesempatan bagi para user untuk membukan toko dan berjualan, dan ada juga jobs board, fasilitas bagi user untuk mencari pekerjaan dan mencari karyawan di jejaring socialnya.
Perkembangan social media di internet memang begitu fenomenal. Perkembangan tersebut membuat para penggiat ecommerce harus mulai prospek social commerce. Dimana mengabungkan antara social media dan ecommerce.
Begitu pula dengan arah merketing yang muali berubah ke arah digital marketing. Di banyak perusahaan bahkan sudah banyak membuat team digital marketing untuk merespon dan melihat perkembangan sosial media dan social commerce.
Jack Myers Myers,Media economist seperti di tulis socialcommercetoday 23/02/11 memperkirakan bahwa dekade berikutnya, 50% dari pertumbuhan pemasaran digital akan datang dari social commerce yang ia mendefinisikan sebagai media sosial dikombinasikan dengan kupon digital dan promosi online/mobile.
Utamanya bagi perusahaan media convesional yang harus mulai berlari ke arah social media dan mulai memikirkan mencari profit di social commerce. Tanpa model bisnis merangkul commerce sosial, media convensional akan terjebak dan tertinggal oleh ke Facebook, Twitter, Groupon, Sosial dan para pemimpin social commerce.
Beberapa minggu lalu kaskus mengumumkan pathnership dengan Global Digital Prima (GDP). salah satunya hal yang akan dilakukan kaskus kedepan adalah kaskus siap lebih mengmbangkan layanan ke arah Social Commerce, karena selama ini secara tidak langsung kasku memang sudah melakukan kegiatan social commerce.
Terjuan ke social commerce, seputarecommerce pikir memang sudah wajar dan seharusnya. Mengingat saat ini trend social commerce memang sangat bagus dan sedang mengarah kesana. Serta bebera alasan kenapa para startup harus goes to social commerce dan bagaimana mendapatkan profitnya sudah di bahas.
Kaskus selama ini memang sudah menjalankan social commerce-nya di layanan forum jual beli (FJB). seperti kita ketahui bahwa FJB merupakan Forum Jual beli yang mempertemukan antara penjual dan pembeli . Boleh di bilang itu merupakan e-marketplace, bahkan Majalah Forbes menobatkannya rangking pertama ecommerce indonesia.
Kaskus sudah berjalan ke arah Social commerce bisa terlihat banyak kegiatan jual beli di FJB-nya. Misalnya adanya testimonial yang merupakan testimoni terhadap barang yang di beli atau testimoni terhadap service yang di berikan oleh pedagang. Selanjutnya terstimoni itu bisa berupa recomendasi recomendasi.
Jika penjual di Kaskus tersebut bermasalah, pembeli bisa melaporkannya ke moderator forum. Oleh Moderator biasanya nama penjual tersebut di masukan kedalam pejuaal bermasalah. Atau jika pembeli sudah ISO (ISo didapat jika posting orang di seller sudah mencapai 2000 atau lebih postingan), bisa melakukan memberikan BATA MERAH (Moticon Bata yang menandakan orang yang di bata tersebut bermasalah).
Ketika ingin berbelanja, maka pembeli bisa melihat reputasi penjual tersebut. Sudah berapa postingannya, berapa cendol (semacam badges), apakan seller tersebut recomended seller, apakah penjual tersebut masuk ke list penjual bermaslaah.
Mengingat tingkat trust masyarakat Indonesia akan berbelanja online masih rendah dan belum adanya online payment lokal yang benar-benar handal menggunakan Rekening bersama (Rekber) berbelanja di kaskus bisa menjadi pilihan.
Menggunkan rekber biasanya selain tingkat kepercayaan, juga transaksi dalam jumlah yang sangat besar. Pembali mentrasfer sejumlah dana seharga barang tersebut ke Rekber yang disediakan kaskus, kemudian setelah barang sampai ketangan pembeli dan dinyatakan sudah oke, baru kemudian pihak kaskus akan mentransfer ke rekening penjual.
sebenarnya kaskus juga sudah memiliki online payment sendiri, yaitu kaspay. Namun tak setiap penjual dan pembeli memilikinya dan tingkat kepercayaan masyarakat indonesia lumayan kurang bagus akan online payment.
jadi sangat pas jika saya seputarecommerce mengatakan jika kaskus adalah model social commerce yang sudah berjalan di Indonesia. Bahkan jauh sebelum social commerce ini ramai di perbincangkan, setidaknya di Indonesia.
Bagaimana Mendapatkan keuntungan atau Moniteze dari Social commerce? itu mungkin menjadi pertanyaan seputar ecommerce juga. Apalagi harus ada alasan-minimal alasal Monetize sebuah situs untuk mulai mengintegrasikan layanan social commerce atau membuat layanan full social commerce.
Artikel yang seputar ecommerce ambil dari socialcommercetoodayini mungkin bisa membantu kita menjawab pertanyaan How to Profit from Social Commerce
In the last week or so, we’ve seen a flurry of practical recommendations for deploying social commerce from industry experts. Here’s a roundup of their tips.
David Yovanno (CEO of Gigya)
- First, remove friction – integrate social sharing with social sign-on so that items can be shared with the least amount of friction.
- Second, provide incentives – reward customers for social activity by providing incentives. Both virtual and monetary incentives help foster customer loyalty.
- Third, measure – track not only sharing volume but the resulting referral traffic and its impact on sales. With this information, retailers can then reward their largest influencers, driving more Word of Mouth (WOM) activity
Jeff Bullas (Social Media and Digital Marketing Consultant)
- Choose a shop application that is easy to set-up and you can customize your Facebook shop store
- Tell your customers where to find your store and how it works
- Import your email into your promotions app
- Actively promote your products, promotions and discounts using email, Twitter and Facebook
- Use great high definition photos and images
- Use your wall like it’s your shop window
- Reward your fans with exclusive discounts and promotions
- You stay within the Facebook ecosystem from product browsing to checkout
- You can measure with inbuilt analytics and tools but also be able to add Google analytics and Facebook Insights to your toolkit analytics tools.
- You don’t have to be computer programmer so you can make your own changes quickly and efficiently to your design and F-Commerce landing page
Jeff Bullas ((2) Social Media and Digital Marketing Consultant)
- Use Facebook contests that request “Likes” to automatically send users to the Facebook store to encourage product browsing.
- Post ads, promotions, flash sales, or product-focused press to your Facebook Wall and link to the Facebook store’s PDP pages, enabling quick purchasing ability within the social network.
- Leverage the Facebook Fans API. In doing so brands are empowered to combine “deals of the day” or product announcements with deep links to product detail and purchase pages within the Facebook store. This approach gives the user fast transaction capabilities, while also helping the brand collect the user’s data and demographic details.
- Keep an eye on Facebook’s currently testing of a “Buy With Friends” program, which allows brands to offer discount incentives to users who encourage their friends to buy the same item by publishing purchases on friends’ news feeds.
Ben Staveley (Econsultancy)
- Check your analytics: Before you start see what sort of traffic you are getting from the social web at the moment and how well this traffic converts – first step should be to improve conversion
- Understand how social your customers are: put your toes in the water by listening and engaging customers in social media to see how they react. Social is not for everyone
- Start using your Facebook page to promote products: begin marketing products on your Facebook account.
- Using the analysis goals I identified in point one, you can see how effective this is and whether it is driving sales.
- ‘Socialise’ your website: add social media sharing links to your website.
- Use a Facebook shopping app: If your customers are Facebook users, it makes sense to let them shop there too rather than leaving to go to your website
- Investigate bespoke solutions turn your Facebook account into a fully functional e-commerce platform.
- Don’t just sell: social commerce shouldn’t be all about selling – add value to their customers’ shopping experience – and give give them a reason for communicating with you and their peers.
Alisa Gould-Simon (Mashable / Pose.com)
- Empower Consumers: Let customers have a say in the business – by crowdsourcing decisions (a ;a Threadless and Modcloth), and have their say in promoting you (word of mouth initiatives)
- Use exclusivity: Make your customers feel special by giving them exclusive access, information and products
Lauren Fisher (The Next Web)
- Deploy a Social Shopping Cart: Allow people to shop and share with their social graph
- Make Personalised recommendations, based on social profile (using social sign-on)
- Open a Shop on Facebook, and add value (like Soap.com’s Shop My List app, that allows people to quickly and conveniently make repeat purchases from Facebook)
- Enable sharing with friends before buying – to allow customers to friendsource advice on whether to buy
- Consider Social Currency – explore accepting Facebook Credits for payment
- Reward social interactions – incentivise customers to share and spread the word
‘Glen‘ (TopRank (2010 article, getting re-tweeted now))
- Get Data. First things first: You need to figure out where your site visitors are sharing your products (AddThis and ShareThis analytics)
- Set up Facebook and Twitter profiles: Start with the main players
- Find unique places for sharing buttons: not just on a product page, but after a purchase, review or other interaction
- Add product videos – and host them on YouTube
- Engage customers – create a dialogue with customers who want to talk to you
- Add exclusivity – add special offers, coupons, tips, and other things that customers wouldn’t get unless they were following you on social media sites.
- Don’t stay in “sell mode” – be useful to your customers – even to the extent of sharing competitor deals with them (generates trust and loyalty)
- Integrate your customer service strategy with your social media strategy – diffuse situations by helping customers directly through social media
- Track what people click on social media sites (via URL shorteners offering analytics (like bitly)
- Give back – use social as a giving platform, giving helpful new, tips, offers, and access to you
Jason Taylor (Usablenet (Mashable))
- Use Facebook Share, Like and Reviews APIs
- Support Easy, Secure E-Commerce (without redirects to a traditional website)
- Track Your Success (Facebook Insight + Google analytics)
- Leverage Facebook E-Commerce for Social Campaigns – integrate e-commerce into Facebook marketing (flash sales, promotions,daliy deals and Facebook’s new “Buy With Friends” program)
Sumber: socialcommercetooday

Diartikel sebelumnya seputar Ecommerce menulis tentang apa itu Social commerce. Kali ini secom akan membahasa alasan kenapa social commerce ini layak di geluti.
Trend internet saat ini sedang mengarah ke social media. Dimana pengguna memiliki hak dan kesepatan untuk menggunakan Social Media. Buktinya dengan menjamurnya berbagai social media terutama jejaring social semacam facebook. Facebook dipercaya sebagai awal kebangkitanya era jejaring sosial. Setelah sebelumnya booming Frienster dan Blog.
Kiprah social media juga tak kalah berpengaruh. Lihat saja bagaimana revolusi di beberapa negara timur tengah terjadi berawal dari social Media. Atau banyak orang yang akhirnya menjadi selebriti dunia berkat social media semacam youtube, sebut saja justin biber.
Oleh karena sifat dari social media yang lebih datar, dimana didalamnya lebih terjadi komunikasi dua araha antar usernya. Sehingga user/pengguna banyak berdiskusi, sharing tentang pengalaman dan berbagi pengetahuan. Tak sedikit pula gerakan social terbentuk akhirnya terbentuk di social media. Bagitu juga berbagi pengalaman.
Berbagi pengalaman tentang berbelanja atau menggunakan sebuah brand juga tak luput di ungkapkan dan dibicarakan di social media. Begitu juaga dengan memberi testimonia atau recomendasi terhadap sebuah produk atau toko online.
Kita, yang hidup di era maju dan internet (social media) terkadang lebih cendrung percaya akan rekomendasi teman atau komunitas. Juga lebih mempercayai rekomendasi sebuah produk dari social media. Sehingga iklan bukan satu-satunya recomendasi bagi para custormer.
Sebuah study di America menyatakan bahwa orang akan lebih cendrung percaya refensi dari teman dan social media ketika memutuskan untuk membeli sebuah produk. Sehingga menurut Hill dan Knowlton, masa depan e-commerce adalah social commerce.
Menurut hasil studynya sebanyak 83% dari responden, belanja online karena terpengaruh pengalaman sebelumnya. Pengalaman ini dibagi lagi menjadi pengalaman anggota keluarga (48%), pengalaman dari teman (44%), pengalaman dari iklan website yang bersangkutan (43%).
Oleh karena itulah Seperti di katakan Survey Altimeter Group baru-baru ini menemukan 86% respondennya sedang bersiap-siap meluncurkan strategi social commerce pada tahun 2011.
Akhirnya, tak salah jika secom merekomendasikan jika layanan social commerce ini akan semakin manrik untuk di pantau dan digeliti.
(berbagai sumber)
Seperti di ketahui bahwa Groupon, adalah layanan daily deals terbesar di dunia. Untuk melawan hegemoninya, banyak raksasa internet mulai membuat layanan sejenisnya seperti Google dan Amazon. Tak hanya di ranah dunia, di lokalpun tak sedikit yang membuat layanan sejenis bahwa hampir sama sekali.
Terispirasi oleh kesuksesan Groupon dan hegemony perlawanan para raksasa lainya, Facebook di kabarkan bersiap bersaing merambah layann Groupon. Dengan jumlah user yang sudah mencapai 500 juta lebij tentu ini menjadi postensi yang sangat luar bisa.
Seperti di tuliskan busnesweek, layanan Daily Deals ini akan tes di San Francisco, San Diego, Dallas, Atlanta, dan Austin, Texas. Menurut Facebook, itu akan menjadi bagian dari program Internet terakhir ada mereka, yang telah memungkinkan perusahaan untuk menawarkan spesial kepada pengguna.
Fungsionalitas Kupon sosial baru, meskipun, akan memungkinkan transaksi ini akan dibagikan oleh pengguna Facebook untuk hadiah yang lebih besar ke depan. Dengan layanan daily deals ini Facebook akan bekerja sama dengan perusahaan lokal untuk menyoroti kesepakatan pebinis Lokal dan mendorong pengguna untuk berbagi dengan teman-teman.
Mengapa agar bergegas untuk meluncurkan layanan ini? alasannya karena mereka bersiap menggarap pasar lokal.
"Lokal adalah perbatasan terakhir bahwa Internet belum ditaklukkan, dan semua orang akan setelah itu dengan sepenuh hati," kata Lou Kerner, an analyst with Wedbush Securities Inc. in New York
Kita tunggu saja kabar selanjutnya, sepertinya akan menarik jika segera di terapkan di indonesia. Mengingat indonesia adalah pengguna facebook 2 terbesar di Dunia serta tak sedikit facebooker indonesia menggunakan facebook untuk promosi dan berjualan.
Pernahkan anda berbelanja online. Kemudian setelah itu memberikan rekomendasi kepada teman di facebook untuk berbelanja atau tidak berbelanja di toko tersebut. Atau kemudian anda di minta testimoni atas barang dan pengalaman di tempat tersebut.
Pernahkan anda me-like sebuah fanspage facebook sebuah toko online. Kemudian melihat-lihat barang di "toko" facebook tersebut dan bertanya tentang reputasi penjua tersebut kepada teman facebook. Bisa juga ketika berbalanja di kaskus kemudian anda mencari tahu reputasi penjualnya.
Ya, disadari atau tidak anda berarti telah melakukan aktifitas social commerce. Dimana anda telah melibatkan social media untuk membantu berbelanja.
Menurut wikipedia, Social commerce adalah bagian dari electronic commerce (e-commerce) yang melibatkan penggunaan social media, media online yang mendukung interaksi sosial dan kontribusi user, dalam membantu proses pembelian barang/jasa secara online.
Ada beberapa Type Social commerce. Seperti di paparkan Nukman Luthfie CEo juale.com dalam seminar SparXUp ‘Utilizing Social Commerce, The Next Opportunities’ di Hotel Mercure Surabaya (24/02/11) di kutif dari rumahdot.com, Ada dua tipe social commerce.
Pertama, connect where customer shop. Terkoneksilah di mana pembeli belanja. Artinya, lokasi pasarnya sudah ada. Sudah banyak toko di sana. Sudah banyak orang jualan di sana. Kedua, shop where customer connect. Artinya, buatlah toko di mana orang-orang ramai berkumpul dan terkoneksi.
Jadi sepertinya akan menarik melihat trend social komentce di Indonesia ini. Kenapa menarik?, tunggu kenajutan.