Anda punya toko online atau website yang sudah terintegrasi dengan facebook, seperti Ficebook like atau share. Atau Anda malah seorang pejualan online yang berjualan hanya di facebook?.
Suka mendapatkan tag di dari barang yang di jual
seller di facebook, apa realsi anda?. Kesal atau tak mengapa selama produknya memang bukan barang yang dilarang. Kalau kesal ya wajar, toh facebook adalah jejaring social bukan Emarketplace dimana orang bisa menjual dan membeli.
Fenomena jualan di facebook ini saya kira wajar. Di Internet, sekarang ini banyak orang yang lebih suka berlama-lama berada di jejaring social. Untuk sekedar sharing dan diskusi tentang banyak hal. Seperti layaknya berjualan di dunia nyata, di dunia mayapun demikian, dimana ada orang banyak berkumpul ya disitulah ceruk pasar terbuka. Dan itulah yang terjadi di facebook, orang berbodong-bondong jualan di facebook.
Nah berikut beberapa data tentang facebook commerce
500+ juta pengguna Aktif.
250+ juta orang menggunakan facebook untuk websitenya
200+ juta pengguna facebook mengakses Facebook menggunakan mobile phone
700+ milyar menit perbulan dihabikan di Facebook
50% login setiap hari
Rata-rata user mempunyai 130 friends
Rata-rat user terkoneksi kedalam 80 community pages, groups and events
Rata-rata user membuat 90 content setiap bulan
30 milyar content di sharing setiap bulannya
20 milyar applications terinstal setiap hari
10,000 new websites di integrasikan dengan facebook setiap hari
2.5 juta websites di Integrasikan dengan facebook
Data tersebut akan menjadi perhatian dan alasan tersendiri kenapa kita para penggiat ecommerce harus mulai meikirkan tentang facebook commerce.
sumber gambar: l2thinktank.com
Kabar baik bagi ecommerce di Indonesia, hari ini rabu 13 April 2011 Doku resmi di launching. Sebenarnya Grand launchingnya baru akan di
rencakan bulan Mei. Seperti di jelaskan oleh founder Doku, Ronald Ishak di milis startuplokal" Doku finally launched our new website today!.
Seperti namanya, doku yang berarti uang. Doku adalah layanan online payment tentunya berbasis lokal. Doku "This is online payment, the real deal, in Indonesia" Lanjut ronal di milis #tartuplokal. Selain rupiah, Doku sudan mendukung beberapa mata uang seperti USD, SGD, AUD dan EUR. Juga sudah mendukung Wallet, Recuring billing dll
Sudah ada beberapa marchat yang menggunakan doku ini sebagai online paymentnya sepperti Rakuten yang merupakan emarketplace, Garuda Indonesia, Bayu Buana, Sitra Wimax, Indosat-m2, Citibank's belibarang.com, Java festival production, Indomog, musik-legal, and harvest cakes.
ketika saya mengunjungi websitenya, sudah ada beberapa bank yang menjadi pathnernya dan itu termasuk bank-bank besar. Untuk bank Lokal BCA, BNI, Mandiri dan bank Multi nasional seperti Citibank, Visa dan mastercard. dan yang menarik, mereka juga berpatner dengan paypal yang merupakan online payment yang sudah banyak digunakan di dunia.
So, kita tunggu saja bagaimana kiprah doku ini mewarnai ecommerce Indonesia dan bersinergi dengan beberapa layanan online payment lokal. Yang pasti ecommerce di Indonesia sangat membutuhkan model payment dan semoga doku bisa menjadi pilihan bagi para penggiat ecommerce di indonesia.

Social Commerce Lockerz telah mendapatkan $ 30 juta pendanaan baru dari SEC baru. Seperti telah di konfirmasi oleh techcrunch tentang kenaikan tersebut dengan seorang juru bicara perusahaan. Lockerz sebelumnya mengumpulkan $ 30 juta dari KPCB, Liberty Media dan CEO Liberty Greg Maffei.
Lockerz Didirikan oleh Kathy Savitt, seorang mantan karyawan Amazon dan American Eagle Outfitters exec. Lockerz adalah situs Social Commerce dengan gagasan bahwa influencer dalam sebuah jaringan sosial dapat menjadi pendukung brand dan konten serta mempengaruhi perilaku teman-teman mereka.
Lockerz yang memiliki 18 juta anggota di seluruh dunia ini ditujukan untuk pria dan wanita usia 13 sampai 30, berusaha untuk membangun sebuah komunitas trendsetter dan tastemakers yang gemar berbelanja, bermain dan terhubung di Web. Dengan menggunakan Lockerz, pengguna dapat memperoleh poin dan diskon merek dengan berbagi konten di situs.
Permasalahan clasik bagi terlaksannya ecommerce dinagara-negra berkembang adalah alat pembayaran. dan alat payment ini adalah masalah yang penting untuk segera di pecahkan.
Begitu juga di Indonesia. Alat pembayaran yang pas untuk keberlangsungan ecommerce sangat penting. Selama ini, cara pembacayaran untuk transaksi di Indonesia masih di lakukan secara konvesional, masih menggunakan cara tranfer bang biasa. tentu itu tidak efisien mengingat prosesnya yang termasuk lama.
Bayangkan saja ketika anda akan bertransaksi, anda harus menuju ATM atau Bank terdekat untu transfer pembayaran. Setelah pembayaran, dihharuskan konfirmasi pembayaran ke seller. Malah ada beberapa seller yang harus melampirkan bukti transfer/pembayaran via email.Ribet bukan?
Sebenarnya di Indonesia sudah ada beberapa online payment lokal seperti kaspay, doku dan Ipaymu. Namun perkembangannya juga masih jadi kenadala. Selain karena keamanannya dan kefisienanya (tidak ribet)dari layanan tersebut juga karena kesadaran masyarkatnya juga belum begitu bagus. Agak sudah memang mengeduksi masyarakat untuk menggunakan layanan tersebut.
Masalah masih sedikitnya marchat-marchat yang menyediakan tools dan mempunyai akun online payment lokal juga masih jadi kendala tersendiri. Misalkan saja sedikit sekali pemilik toko online yang akan menerima pembayaran dari online payment. sehingga banyak user akhirnya merasakan menggunakan online payment lebih ribet.
Masalah regulasinya juga yang masih bermasalah. Terutama berkaitan dengan masalah clearing. Di Amerika ada yang namanya ACH (Automated Clearing House). Fungsinya semua payment online atau pembayaran online antar bank bisa diproses disini. Jadi proses debit/kredit antar bank lebih cepat prosesnya.
akan tetapi kalau clearing di Indonesia diminta sebelum pukul 21.00 dan setelah itu uang bakal cair paling cepet biasa besoknya. dan kalau tidak salah di Indo itu clearing systemnya masih manual, belum online processing secara komputerisasi and otomatisasi.
Ada alternatif lain, yaitu menggunakan mobile payment. Apalagi jika melihat potesi perkembangan ponsel di Indonesia yang cukup pesat dan mudah serta murahnya smartphone yang terkoneksi dengan internet di Indonesia.
Dengan melihat perkembangan ponsel yang cukup bagus tersebut, Membuat potensi mobile payment ini jauh lebih berpotensi. sebuah riset Gartner, menyebutkan bahwa Negara-negara yang memerlukan alat pembayaran lewat ponsel alias mobile payment justru datang dari negara berkembang seperti Indonesia. Data riset Gartner menyebutkan, wilayah Asia Pasifik menjadi pengguna terbesar layanan mobile payment. Sejak 2009 lalu, Asia Pasifik sudha menjadi pengguna mobile banking terbesar dengan angka 70,2 juta pengguna mobile payment.
Beberapa oprator sudah membuat layanan mobile payment ini. Seperti Telkomsel yang membuat layanan Tcash. Namun masalah clasik seperti masalah regulasi masih menjadi masalah utamanya. Selain itu juga masih adanya ego-ego para bank dan operator itu sendiri untuk bersinergi untuk melaksanakan layanan mobile payment ini.
Entah layanan apapun yang nanti nya akan berkembang, yang pasti Indonesia sangat membutuhkan layanan payment untuk mendukung keberlangsungan ecommerce indonesia yang saat ini sedang berkembanga saat ini :)
Layana daily deals di Indonesia memang sedang riuh dan sesak. Buktinya sudah ada sekitar 20 lebih layanan daily deals di Indonesia ini. Selain itu juga sudah ada pemain-pemain regional dan Dunia yang sudah mulai melirik pasar di Indonesia.
Pemain besar daily deals di tuliskan sebelumnya oleh seputar ecommerce tentang adanya akuisi disdus oleh groupon. Seperti di katahui Groupon adalah layanan daily deals terbedar di dunia yang tersebar lebih dari 47o kota di dunia. Bahkan dikabarkan akan segera IPO, dan IPO pertamanya di isukan mengalahkan IPO pertama google.
Selanjutnya adalah Outlet. Outlet merupakan situs daily deals yang berada di Singapura dan sudah sukses disana. Outlet kemudian akan membuat layanan serupa di indonesia dengan nama outlet.co.id. Kabarnya mereka sudah bekerjasama dengan kaspay sebagai alat pembayarannya.
